Senin, 06 Juli 2015 4 komentar

Teruntuk kamu yang memilih diam tanpa mau memperjuangkanku

Selamat pagi tuan, apa kabar? Semoga baik adanya. Bagaimana harimu tuan? Cukup baikkah tanpa aku sekarang? Sepertinya kau selalu baik - baik saja ada atau tidak adanya aku.
Tuan, aku sedang tak ingin berbasa basi. Terlalu menanyakan keadaanmu yang sepertinya memang lebih baik tanpaku. Maka dari itu, aku akan langsung menyampaikan apa yang selama ini berputar putar di kepalaku.
Tuan, taukah kamu seberapa besarkah rasa sayangku padamu? Taukah kamu betapa ingin sekali aku berbincang dengan mu sampil menatap wajahmu? Taukah kamu bahwa disaat malam mulai datang. Aku sedikit gelisah menunggu kabar darimu? Taukah kamu setiap waktu yang aku punya selalu aku sempatkan untuk memikirkan keadaanmu? Taukah kamu tentang semua itu tuan? Sepertinya tidak. Mengingatku saja tidak, apalagi tau semua hal yang aku lakukan untukmu. 
Tuan, kemarin adalah hari dimana aku telah mengucapkan kalimat yang sebenarnya tidak ingin aku ucapkan. Kalimat yang tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya akan aku ucapkan. Iyaa, aku memilih untuk pergi. Bukan karena aku tak sayang. Bukan karena aku sudah tak peduli lagi denganmu. Melainkan karena aku mulai lelah dengan semua yang kita lalui selama ini.
Kamu masih ingat apa yang aku katakan semalam? Aku lelah berjuang sendirian. Aku lelah setiap malam membuang air mataku dengan percuma. Aku lelah merasakan sakit sendirian. Aku benar - benar lelah. Mungkin jika kamu mau sedikit meyakinkanku, aku tak akan pernah selelah itu. Tapi sepertinya itu hanya angan - anganku saja. Kamu mana mungkin meyakinkanku untuk tak meninggalkanmu. Kamu terlalu sibuk dengan hidupmu. Terlalu sibuk dengan "wanita" itu. Yaa, "wanita" itu. "Wanita" yang kau bilang sahabat dekatmu. Ah, omong kosong, sedekat dekatnya seorang sahabat. Kau harusnya tak mengabaikan orang yang katanya kau sayangi itu, yaitu aku. Aku selalu protes mengenai hal ini, mengenai "wanita" yang selalu kau bela itu. Lucu memang, kau mati - matian membelanya dan membiarkan orang yang katanya kau sayangi ini tersakiti. Aku tak pernah melarangmu untuk berteman atau bersahabat dengan siapa saja termasuk "wanita" itu. Aku hanya meminta satu, posisikan orang yang katanya kau cintai itu sebagaimana mestinya.
Oh ya, kamu ingat? Kamu pernah tak ada kabar hampir beberapa hari. Kamu tau betapa aku sangat menghawatirkanmu? Pesan yang aku kirimkan padamu setiap hari tak pernah kau balas. Akses untuk mencarimupun sangat sangat kau batasi. Saat itu aku mulai putus asa, tapi aku yakin. Kamu pasti kembali.
Mungkin tak mendapatkan kabar darimu sudah menjadi makananku sehari - hariku. Aku bisa terima itu karena aku mulai terbiasa dengan situasi itu. Tapi, ketika kamu mulai tak memperdulikanku. Ketika kamu lebih mementingkan "wanita" mu itu daripada aku. Aku memutuskan untuk pergi. Pergi dari cerita yang sudah kita bangun ini. Mungkin buatmu, kepergianku tak menjadi masalah yang besar. Akupun akan mencoba seperti itu. Toh, ada atau tidak adanya kamu aku selalu sendiri. 
Tuan, aku menulis ini bukan karena aku ingin kita bisa seperti dulu lagi. Bukan karena aku ingin cerita kita bisa kita lanjutkan lagi. Aku hanya ingin kau tau, ketika seseorang tulus mencintaimu. Atau ketika seseorang dengan sungguh - sungguh menyayangi dan peduli padamu. Maka jagalah dia. Mereka tidak meminta apa - apa. Mereka hanya ingin diingat dan diperjuangkan. Bukankah suatu hubungan yang baik, akan tercipta dengan baik jika keduanya saling memperjuangkan? 
Tuan, aku tak pernah menyesal pernah membuat cerita denganmu. Justru dengan adanya kamu, aku mulai belajar banyak hal. Aku belajar bagaimana cara menghargai seseorang. Aku belajar tentang kesabaran. Aku belajar bagaimana seharusnya mempejuangkan seseorang. Aku belajar bahwa menjalin hubungan itu bukan hanya satu orang saja yang menginginkan, melainkan keduanya. Terimakasih tuan, terimaksih sudah memberi pelajaran yang banyak untukku. Semoga setelah ini, kau bisa lebih menghargai orang yang kamu sayangi.
Itu saja tuan. Semoga kau bahagia dengan "wanita" mu itu disana.
Jangan lupa makan yaa? Kau sangat susah untuk melakukan itu. Jaga kesehatan, kalo kamu sakit kan aku jadi sedih. :) 

Dari aku yang pernah menjadi bagian dari kisahmu.


"Perjuangkanlah apa yang memang layak kau perjuangkan. Jangan pernah sia - sia kan dia yang tulus menyayangimu"









-little queen-
Selasa, 02 Juni 2015 0 komentar

Untuk Kamu Yang Sedang Dekat Denganku

Hai kamu, lelaki yang sedang dekat denganku. Boleh aku berbicara sebentar denganmu? Sebentar saja, ini tidak akan lama. Bagaimana harimu hari ini? Menyenangkankah? Aku rasa begitu. Sepertinya kau sedang asik dengan teman - temanmu disana. Oh ya, aku ingin bertanya sesuatu. "Bahagiakah kau selama ini? Dekat denganku yang katamu sangat kau sayangi itu?" Aku harap kau bahagia. 
Aku? Kau bertanya bagaimana perasaanku? Entahlah tuan, aku tak bisa menggambarkan apa yang sedang aku rasakan sekarang. Aku takut mengartikan semua perhatianmu, aku takut mengartikan semua sikap manismu. Yaa, aku takut kau hanya bersikap manis karena kau menginginkan sesuatu dariku. Aku tak tau itu apa, tapi sepertinya kau seperti itu.
Tuan, kita sangat dekat sekarang. Bahkan disaat pesan singkatku tak ada di layar HP mu, kau mulai mencurigaiku dengan pikiran - pikiran yang tidak masuk akal. Ah, kau sungguh berlebihan memang. Tetapi tuan, aku selalu bertanya tanya pada diriku. Apa mungkin benar itu yang kau rasakan? Atau itu hanya acting belaka?
Setiap hari, tak pernah kita lewatkan untuk tidak bertegur sapa. Walaupun kau sering mengacuhkan setiap pesan yang aku kirim, dan baru kau baca beberapa jam kemudian. Lucu memang melihatmu marah ketika aku tak memberimu kabar, namun kau sendiri melakukannya.
Tuan, ada satu wanita yang sampai sekarang membuatku penasaran. Iya, wanita yang kau bilang orang yang menyukaimu itu. Tetapi kau acuhkan begitu saja. Kau memang berkata begitu tuan, tapi tidak dalam tindakan. Sudah berapa kali kita bertengkar karena wanita itu? Kau bilang kau tak pedulikan nya, tetapi kau selalu membelanya didepanku. Apa itu yang kau bilang mengacuhkannya tuan? Tapi sudahlah, sepertinya aku tak akan pernah menang untuk mendapatkan pembelaanmu didepannya.
Tuan, taukah kamu apa yang aku suka dan apa yang tidak aku suka? Pernah kau peduli tentang itu tuan? Sepertinya tidak. Apa yang aku suka dan apa yang tidak aku suka tak pernah kau hiraukan. Yang ada hanya kau lebih mementingkan semua yang kau suka dan mengajakku masuk kedalamnya. Apa kau tak menyadarinya tuan? Kegemaranmu dan kegemaranku itu sungguh sangat berbeda. Bisakah kau tak memaksaku untuk masuk kedalamnya? Aku tidak pernah nyaman dengan hal itu tuan. 
Kau mencoba terus memaksaku untuk menyukai semua hal yang kau suka, tetapi ketika aku mencoba mengajakmu masuk kedalam hal yang aku suka kau langsung menolaknya. Bukankah itu semacam keegoisan tuan?
Tuan, kau bilang kau sangat menyayangiku. Kau ingin berjuang untuk aku. Tetapi kenapa kau selalu membuatku merasa tidak nyaman berada didekatmu? Aku mengakui akupun menyayangimu, tetap jika kau terus membuatku tak nyaman. Tidak bolehkah aku mulai mundur dan berpaling darimu? Tolong mengertilah tuan. Kau selalu berkata supaya aku bisa mengerti akan dirimu, bukankah kalimat itu yang harus aku katakan untumu tuan?
Tuan, jika kau bersungguh sungguh menyayangiku. Jangan kau rubah aku menjadi orang yang benar - benar berbeda. Cintailah aku yang apa adanya seperti pertama kali kau bertemu denganku. Jangan kau paksa aku untuk menyukai semua hal yang kau sukai itu.
Tuan, semoga kau bisa memahami tulisanku ini. Dan mulai merubah sifatmu yang  membuatku tak nyaman itu.


Mungkin aku bukan wanita sempurna, namun aku akan berusaha menjadi orang yang bisa membuatmu jatuh cinta apa adanya.







-little queen-


Rabu, 27 Mei 2015 0 komentar

Mungkin Bukan Kamu

Pria baru itu, yang aku kenal belum lama ini. Aku pikir aku harus mengulang semua pemikiranku tentang dia. Iyaa, harus aku ulang.
Mungkin aku terburu - buru menyimpulkan bagaimana dia. Mungkin aku terlalu terlena dengan semua tutur bicaranya. Ah, aku memang seperti itu. Hanya mementingkan kenyamanan disaat semuanya belum aku tau.
Aku temukan sosok itu lagi, sosok yang dulu pernah aku coba untuk lupakan. Dan mungkin sampai sekarang aku masih mencoba untuk melupakan. Bukan orang yang sama, tetepi kepribadian mereka hampir sama. Tidak semua memang, karena sosok yang dulu benar benar bisa membuatku jatuh hati sampai sekarang :)
Mungkin aku terlalu memikirkan bagaimana caranya supaya rasa sepi ini tidak hadir lagi. Mungkin aku terlalu memikirkan bagaimana supaya aku tidak merasa sendiri lagi. Begitulah aku, suka memikirkan hal hal yang hanya membuatku bahagia sesaat. Padahal aku tau, teman - temanku selalu berusaha untuk tidak membuatku merasa kesepian ataukun sendirian.
Awalnya iya aku seolah - olah diterbangkan tinggi sampai ke awan, tapi semakin lama aku merasa itu hanya halusinasiku saja.  Aku mencoba untuk bangun, bangun dari sebuah mimpi yang membuatku terlena. Katanya, "orang baik akan mendapatkan orang yang baik juga. Disaat kamu belum mendapatkannya, akan ada orang - orang jahat yang masuk kekehidupanmu untuk menguji seberapa kuat hatimu bertahan untuk menunggu orang baik itu."
Yaaa, mungkin aku harus sedikit bersabar. Bersabar untuk mendapatkan yang benar - benar tulus. Bersabar untuk mendapatkan yang benar - benar bisa mengerti. Bersabar untuk mendapatkan yang benar - benar bisa menjaga. Mungkin Tuhan tau, saat ini aku masih belum bisa menjaga hatiku untuk orang yang lebih baik itu. Mungkin Tuhan tau, saat ini aku masih terlena dengan semua yang ada disini. Aku tau Tuhan pasti telah menyiapkan dia, orang baik yang lebih bisa mengerti aku dan bisa membuatku menjaga hatiku untuknya.


"Mungkin akan ku cari bagahagiaku, tetapi bukan dengan kamu."






-little queen-
Senin, 11 Mei 2015 0 komentar

Pria Baru Itu

Hari itu, hari dimana aku pertama kali mengenal pria itu. Pria yang belum pernah aku temui, pria yang baru aku kenal untuk pertama kali. Aku tak pernah meminta dia datang, aku tak pernah meminta kita dipertemukan. 
Dengan sikap sok tau, pria itu mengira aku orang yang pernah dia kenal. Padahal bukan. Aku pun tak pernah tau siapa dia. Entah hanya sekedar basa basi, atau memang pria itu benar - benar mengira aku orang yang pernah ia kenal.
Aku kira, kita hanya berkenalan seperti itu saja, salah mengenali orang kemudian pergi. Ternyata tidak, pembicaraan kita tidak hanya berhenti disitu, bahkan kita mengobrol kesana kesini seolah olah kita sudah lama saling mengenal. Kalian pernah seperti itu? Berbincang dengan orang yang baru kalian kenal, yang sebelumnya kalian tidak tau siapa dia, bahkan bertemu saja tidak pernah? Hahaha, konyol memang. 
Setiap hari kita saling bertukar cerita, berbincang hingga larut malam. Yaa, kita benar benar merasa seperti sudah mengenal lama. Tapi memang salah, kita belum pernah bertemu sebelumnya.
Dia sosok pria yang baik sepertinya, aku sedikit mulai mengenal bagaimana sifat pria itu. Walaupun kita belum pernah bertatapan muka. Aku cukup nyaman dengan situasi seperti ini. Daripada ada dalam situasi dimana kita saling bertemu, namun kemudian dia pergi begitu saja. Ah, sepertinya itu lebih sakit. Setidaknya, jika dia pergi mungkin sakit ini tak seperti dulu ketika orang yang sering kita jumpai pergi begitu saja.

"Biarlah aku cari sendiri bahagiaku, bagaimanapun caranya."





-little queen-

Selasa, 28 April 2015 3 komentar

Datang, Pergi, Lalu Menghilang

Apa sebutan yang tepat untuk mereka yang dengan mudahnya pergi meninggalkan seseorang yang mungkin selalu dicari disaat mereka sedang dalam situasi yang tidak mengenakkan? Teman? Sahabat? Atau mungkin Parasit?
Kalian mungkin pernah punya teman, sahabat, atau apapun itu yang kalian anggap benar benar dekat dengan kalian. Tapi sekarang meraka menghilang. Mungkin bukan menghilang, lebih tepatnya sedikit menjauh.
Dulu jarak yang mereka jalin tak sejauh ini, tapi sekarang benar benar sangat jauh.
Menyapa saja sudah tidak pernah, apalagi mengobrol seperti dulu. Setiap hari, mendengar semua keluh kesahnya. Selalu berada didepan ketika dia benar benar membutuhkan seorang penyemangat, seorang penghibur, bahkan hanya sebagai teman mengobrol hingga larut malam.
Dikepalaku selalu penuh tanya. Kenapa? Ada apa? Apa yang salah? Kenapa berubah? Kenapa tidak bisa seperti dulu?
Apa mungkin sudah ada penghibur yang baru? Apa mungkin sudah ada penyemangat yang baru? Apa mungkin sudah ada teman mengobrol yang lebih seru?
Semua pertanyaan itu hanya bisa berputar putar di kepala tanpa ada jawabannya. Bagi mereka mungkin ini hal yang gak ada artinya, mungkin biasa saja. Tapi apa pernah mereka berpikir bagainya perasaan orang yang mereka buang seperti sampah begitu saja? Mereka seolah - olah tidak peduli bahkan cuek dengan situasi seperti ini. 
Semoga tidak ada lagi orang - orang seperti itu. Membuang orang seperti barang yang sudah tidak dibutuhkan lagi.

"Teman itu bukan sampah, mereka barang yang harus benar - benar dijaga." :)




-little queen-
 
;